Cyber security atau keamanan siber menjadi dua kata yang begitu hype sejak beberapa tahun belakangan ini. Hal itu tentunya tak lepas dari kian maraknya serangan siber yang mengintai ke berbagai kalangan, baik korporasi, pemerintahan, dan perorangan. Mengutip laporan Badan Siber dan Sandi Negara, sejak 26 Oktober 2023 tercatat setidaknya terdapat 361 juta anomali traffic atau yang bisa dikatakan sebagai serangan siber ke Indonesia.
Melihat tingginya tingkat ancaman siber, tentu diperlukan kesadaran akan keamanan siber untuk meminimalisir dampak dari ancaman tersebut. Upaya itupun dilakukan oleh MSI Institute dengan menyelenggarakan pelatihan terkait Keamanan Informasi bertema “Cyber Security Awareness“, selama 2 hari, 28 s.d. 29 Februari 2024, di Hotel Kristal, Jakarta Selatan.
Bila di hari pertama Tesar Sandikapura, CEO LiteBIG, yang bertindak selaku pembicara membawakan sejumlah materi, antara lain: Data Terkini Serangan Siber di Indonesia, Manage Security (Internet, Social Networking Sites, Email Communications, Mobile Devices, Cloud, Network Connection, DC& DR), dll. Di hari kedua, Tesar membahas sejumlah topik menarik lainnya, seperti Data Serangan Siber di Indonesia, Tujuan Memahami Keamanan Informasi, Bentuk Serangan Siber, Jenis Ancaman Siber, dan Domain Proteksi.
Selain Tesar, di hari kedua training ini juga datang seorang praktisi yang sudah malang melintang di bidang keamanan siber selama 30 tahun terakhir. Beliau adalah Taro Lay, Co-Founder InfoSecuriy World. Pada kesempatan ini, Taro Lay menyuguhkan topic menarik antara lain What Is Security, Fundamental CIS, dan Securing Mobile Devices.
“Karena peserta pelatihannya kebanyakan orang IT. Jadi, memang kita tambahkan beberapa hal teknis tentang digital awareness sehingga peserta IT ini ‘lebih sadar’ terhadap serangan-serangan terkini dalam dunia siber, termasuk aktornya, jenis serangannya dan juga bagaimana mereka bisa menyikapi tantangan ke depan, bahwa tidak semua masalah security itu berhubungan dan teknologi. Ternyata setelah kita pantau memang malah 90% masalahnya ada di People,” ujar Tesar.
Senada dengan itu, Taro Lay mengungkap pentingnya keamanan digital dan sikap waspada kita terhadap teknologi yang ibarat pisau bermata dua. “Keamanan digital itu kan menjadi sesuatu keharusan, kita sudah hidup dikelilingi teknologi. Kita harus sadar ataupun aware bahwa teknologi itu ada sisi negatif dan ada sisi positifnya. Hal itulah yang harus kita cermati, dan kita juga mau ngga mau harus belajar,” kata Taro.
“Pelatihan ini menjadi suatu awal, kan sebetulnya pelatihan kan nggak cukup lah satu hari, perlu sesuatu yang berkesinambungan. Dan (sudah menjadi) tugas saya juga memberikan awareness yang saya berusaha menyampaikannya dengan bahasa yang tidak teknis. Itu yang paling penting, karena biasanya isu-isu yang teknis itu selalu memakai bahasa yang orang tidak mengerti,” sambung Taro.
Karena dibawakan secara santai namun tidak mengurangi bobot materi yang disampaikan, plus dibawakan dengan bahasa yang ‘membumi’ antusiasme peserta dalam menyimak setiap materi yang dibahas begitu terlihat dari pelatihan yang digelar MSI Institute ini.
Salah seorang peserta pelatihan, Niko dari BPR Bank Djoko Tingkir, mengatakan bahwa material yang disampaikan oleh kedua pembicara sangat bagus untuk diimplementasikan, terlebih di perusahaan perbankan di mana masalah keamanan begitu diutamakan. Dia pun berharap materi yang diperolehnya pada pelatihan ini bisa membantu tim di BPR Bank Djoko Tingkir yang disebut akan membangun infrastruktur baru.
“Untuk pembicaranya memang sudah di bidangnya dan berpengalaman lebih dari 30 tahun, bahkan di cyber security. Jadi, menurut saya sudah pas, sangat menarik,” kata Niko, selaku Staff IT di BPR Bank Djoko Tingkir yang mengampuh bagian jaringan komunikasi dan infrastruktur.
Meski lebih banyak dihadiri peserta dari perusahaan perbankan, pelatihan ini juga diikuti oleh peserta dari sektor lainnya. Mereka yang menjadi peserta di antaranya datang dari RSUD Merah Putih Magelang, WOM Finance, Mandiri Tunas Finance, BPR Pekanbaru Madani, Bank Bapas 69, BPR Bank Djoko Tingkir, BPR Jatim Bank UMKM Jawa Timur, dan PT PIR.
Dengan pelatihan yang digelar, Tesar berharap para peserta memahami prinsip keamanan informasi, panduan keamanan informasi, dan dampak serangan siber. “Sehingga mereka pun memiliki security awareness yang tinggi yang akan dibawa dan ditularkan ke seluruh lingkup perusahaan mereka bekerja,” sambungnya.
Tidak hanya untuk menularkan security awareness kepada peserta, pelatihan ini juga diharapkan bisa mencetak talenta keamanan siber atau memberikan cakrawala baru bagi para peserta. “Nah, digital talent secara umum aja kita masih kurang, apa lagi ke security. Karena memang saya lihat secara formal pendidikan security itu kalau saya lihat baru muncul lima tahun terakhir yang mulai terasa,” ujar Tesar, Kamis (29/2/2024).
“Jadi, minimal dari pelatihan yang satu-dua hari ini, itu bisa membuka cakrawala baru, terutama bagi mereka yang background security-nya mungkin masih di bawah rata-rata. Saya sih cukup yakin, dengan mengikuti pelatihan satu-dua hari ini mereka minimal sudah agak mendekat ke middle, tinggal nanti mereka per dalam di sisi-sisi yang mereka yang ingin perdalam, karena kan ini luas ada yang ke server-nya, ada yang ke network-nya ada yang ke apps-nya, atau ke policy-nya, dan mereka juga ngga salah langkah mana yang menjadi prioritas untuk setiap instansi,” pungkas Tesar. ItWorks

